Bahasa

Pertimbangan Umum yang Diperlukan Untuk Memilih Sebuah Gudang

Pemilihan, desain dan manajemen gudang bergantung pada tujuan dan operasi atau bisnis suatu perusahaan.  Seperti pada penulisan sebelumnya, di bawah ini adalah tiga hal penting yang biasanya menjadi dasar pemilihan jenis gudang yang akan dipakai, yaitu:

1. Jenis barang yang akan disimpan serta karakteristik dari barang tersebut.

Hal utama yang harus diperhatikan adalah apakah barang yang akan disimpan adalah makanan (food) atau bukan makanan (non food items) atau kedua-duanya. Karakteristik barang yang harus diperhatikan adalah:

  • Volume dari barang yang akan disimpan, contohnya apakah dalam bentuk tonase atau kubikasi.
  • Frekuensi dan ukuran atau banyaknya pengiriman yang akan diterima di gudang.
  • Frekuensi dan ukuran atau banyaknya pengiriman yang akan dikirim/dikeluarkan dari gudang.
  • Lingkungan pergudangan dan kondisi bangunan. Hal ini penting untuk menjamin barang tidak mengalami kerusakan atau penurunan kualitas selama disimpan.
  • Sensitivitas temperatur, apakah barang memerlukan suhu khusus.
  • Apakah barang yang akan disimpan termasuk kategori barang berbahaya atau tidak. Juga bahan baku dari barang apakah termasuk bahan yang berbahaya.

Warehouse

 

2. Banyaknya barang yang akan disimpan untuk perhitungan luas tempat yang diperlukan.

  • Ukuran dan berat barang termasuk kemasannya.
  • Apa jenis kemasannya.
  • Apakah perlu tempat khusus untuk memasang kemasan baru, pemasangan label dan sebagainya.

3. Waktu yang diperlukan untuk menyimpan barang tersebut.

Selain ketiga hal tersebut di atas, berikut adalah hal-hal penting lainnya yang juga harus diperhatikan sebelum memutuskan atau memilih sebuah gudang:

1. Memperhatikan atau mempertimbangkan peraturan (legislasi) yang berlaku. Seorang manajer pergudangan harus memastikan bahwa operasi pergudangan yang akan dilakukan harus sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku, misalnya:

  • Peraturan tenaga kerja.
  • Peraturan kesehatan dan juga tentang keselamatan pekerja.
  • Peraturan mengenai penyimpanan barang-barang yang masuk kategori barang berbahaya atau mengandung bahan berbahaya.
  • Peraturan penyimpanan untuk obat-obatan dan sejenisnya.
  • Peraturan mengenai bangunan atau sejenisnya.

2. Memilih lokasi yang cocok dengan mempertimbangkan beberapa hal di bawah ini:

  • Memilih lokasi yang letaknya dekat dengan pelabuhan atau secara geografis berada di tempat yang dekat dengan lokasi pabrik atau toko ataupun sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Idealnya, kita harus bisa memilih lokasi untuk meminimalkan total waktu yang harus ditempuh oleh barang baik dari sumbernya maupun tujuan akhirnya.
  • Kondisi bangunan gudang harus baik. Konstruksi bangunan harus kuat, tidak ada kebocoran dan mempunyai ventilasi yang baik. Dalam bangunan, dinding harus bersih dan dicat, sebaiknya berwarna putih. Periksa jendela apakah ada yang pecah dan pintu harus dalam kondisi baik. Carilah tanda-tanda apakah ada kemungkinan terjadi serangan hama, misalnya lubang di dinding dan lantai. Suatu pengkajian harus dibuat dengan ukuran dan bentuk gudang dan karena kapasitasnya untuk mengakomodasi jumlah barang yang akan disimpan dan ditangani. Lebih baik untuk memilih ruang yang lebih besar daripada yang lebih kecil. Luas lantai harus rata dan terbuat dari bahan yang stabil, idealnya beton. Lantai harus mampu mendukung berat material yang akan disimpan dan bobot kendaraan yang mungkin dimasukkan dalam gedung. Jika gudang tersebut akan dipakai untuk menyimpan makanan atau bahan baku untuk makanan maka perlu didesinfeksi atau difumigasi dengan perusahaan pembersihan profesional terlebih dahulu. Periksa kepemilikan bangunan dan melakukan verifikasi atas surat-suratnya.
  • Keamanan. Keamanan adalah aspek yang sangat penting dari fasilitas gudang. Harus ada parameter untuk keamanan bangunan dan lingkungan sekitarnya serta perlindungan yang memadai untuk isi gudang, kendaraan dan peralatan yang digunakan.
  • Lokasi gudang harus bebas dari banjir serta akses ke gudang juga harus bisa dilalui oleh truk besar.
  • Melihat fasilitas apa yang ada untuk gudang tersebut, misalnya fasilitas air, listrik, telepon, dan fasilitas lain yang dibutuhkan.
Advertisements
Categories: Logistik | Tags: , , , | Leave a comment

Memantau dan Mengontrol Kinerja Kendaraan dan Pengemudi

Measurement Fleet

Untuk dapat meningkatkan performa dari Fleet Management System atau Sistem Manajemen Armada Angkutan Darat, maka diperlukan suatu sistem untuk memantau dan mengontrol kinerja kendaraan maupun kinerja pengemudi.

Sebelum melakukan pemantauan dan pengontrolan kinerja tersebut, ada tiga bagian penting yang perlu dijalankan, yaitu:

1. Perbaikan dan pemeliharaan kendaraan.  Prosedur perbaikan dan pemeliharaan kendaraan harus ada untuk memastikan pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan tepat waktu, sesuai dengan standar yang semestinya dan menyimpan semua catatan yang akurat dan menyeluruh untuk setiap kendaraan. Prosedur perbaikan dan pemeliharaan sangat penting untuk memastikan efektivitas operasional armada. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan untuk prosedur perbaikan dan pemeliharaan kendaraan, yaitu:

  • Pemeliharaan preventif / pencegahan. Pemeliharaan ini untuk memastikan bahwa pemeliharaan kendaraan dilakukan pada waktu yang tepat. Kendaraan yang dijaga dengan benar akan lebih efisien dan lebih murah. Kelayakan pakai  / umur pemakaian dapat diperpanjang, nilai jual kembali juga akan lebih tinggi. Pemeliharaan preventif yang efektif juga akan meningkatkan keamanan pengemudi dan penumpang. Mengingat pemeliharaan preventif ini cukup penting, maka frekuensi inspeksi dan layanan harus dilakukan dengan benar.
  • Perbaikan kendaraan.  Prosedur perbaikan kendaraan dengan cepat dan efisien harus ada. Sifat perbaikan dan alasan untuk perbaikan perlu diidentifikasi. Jika terjadi kecelakaan, laporan kecelakaan dan laporan inspeksi kendaraan harus dibuat secara tertulis dan salinan laporan harus dikirim ke semua pihak yang terkait. Laporan tersebut harus disimpan dalam file kendaraan tersebut.

2. Penjadwalan kendaraan. Manajemen armada yang baik harus dapat memastikan bahwa kendaraan yang tepat tersedia dengan kondisi yang tepat, berada di tempat dan waktu yang tepat, untuk mendukung gerakan yang direncanakan / dibutuhkan . Hal ini memerlukan kerja sama yang baik dan berkelanjutan dari semua karyawan operasional / staf terkait. Informasi harus diterima dari petugas lapangan tentang jumlah yang kendaraan yang dibutuhkan dan setiap gerakan dan perubahan apapun pada kegiatan, apakah direncanakan atau tidak. Informasi tentang tidak tersedianya kendaraan karena sedang melakukan pemeliharaan, perbaikan dan inspeksi juga harus diinformasikan. Dari informasi ini, maka manajemen armada akan segera mengisi kekurangan kendaraan untuk memenuhi kebutuhan operasional.

3. Pengaturan (manajemen) suku cadang.  Jumlah dan jenis berbagai suku cadang yang disediakan di garasi atau bengkel dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti usia, jenis kendaraan, jenis angkutan dan sebagainya.  Prosedur untuk penyediaan suku cadang akan membedakan apa itu pemakaian / konsumsi  dan apa yang didefinisikan sebagai suku cadang. Aturan yang jelas harus dibuat ketika mengidentifikasi jenis suku cadang yang dibutuhkan baik untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan. Suku cadang sebaiknya dibeli dari dealer resmi atau sumber terpecaya untuk menghindari barang palsu. Stok suku cadang harus dapat dipertanggungjawabkan dan prosedur pembelian dan pemakaiannya harus sesuai dengan peraturan yang dibuat.

Setelah melakukan ketiga hal tersebut di atas, maka pemantauan dan pengendalian kinerja kendaraan dan pengemudi dilakukan. Caranya adalah membandingkan kinerja tersebut dengan budget atau anggaran yang telah dibuat.  Bagaimana mengukur ketersediaan dan pemanfaatan kendaraan serta biaya menjalankannya. Ada dua jenis biaya, biaya tetap yaitu biaya yang harus dikeluarkan tanpa memperhatikan apakah kendaraan tersebut dipakai atau tidak, serta biaya operasional, yaitu biaya yang terjadi jika kendaraan tersebut digunakan.

Biaya

Semua biaya tetap harus dicatat. Biaya tetap biasanya adalah gaji, ijin, biaya pendirian gudang atau bengkel atau kantor, pajak kendaraan, asuransi, biaya penyusutan, bunga atas modal dari kendaraan dan biaya tetap lainnya.

Biaya operasional didapat dari data sehari-hari dalam penggunaan kendaraan. Biaya operasional adalah semua biaya penggunaan termasuk bahan bakar, pelumas, biaya parkir, tol, ban dan pemeliharaan. Konsumsi bahan bakar akan bergantung pada cara pemakaian kendaraan, sifat dari medan / perjalanan, serta usia dan efisiensi dari kendaraan itu sendiri. Selain biaya-biaya tersebut di atas, mungkin ada biaya lain yang dikeluarkan selama pemakaian kendaraan, semuanya harus dicatat. Semua biaya ini harus dicatat dengan rapi dalam suatu log book untuk setiap kendaraan dan harus diperiksa oleh manajemen armada minimal seminggu sekali.

Pemanfaatan Kendaraan dan Kinerjanya

Produktivitas kendaraan dan pengemudi berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya (kendaraan) dan cara mereka mengoperasikan / ketika mereka bekerja. Mengukur kinerja dari kendaraan serta pengemudi adalah melihat bagaimana sumber daya yang ada digunakan secara efektif dan efisien. Dalam tahap perencanaan untuk sumber daya transportasi, telah dilakukan perhitungan jumlah armada yang dibutuhkan dan kebutuhan pengemudinya berdasarkan perkiraan pekerjaan yang akan dilakukan. Tidak efisien dan efektif bisa dilihat dari biaya yang tidak perlu dikeluarkan yang terjadi terus menerus dan cenderung meningkat.

Categories: Logistik | Tags: , , , , | 2 Comments

Pentingnya Koordinasi pada Saat Tanggap Darurat Bencana

Coordination

Pada saat tanggap darurat bencana, kita pasti sering mendengar kata koordinasi, koordinasikan, mengkoordinasikan dan sejenisnya. Kata koordinasi sering sekali diucapkan, namun pada kenyataannya sulit sekali untuk dijalankan. Salah satu contoh, ketika banjir di Jakarta pada awal 2013 lalu, di beberapa tempat masih banyak terjadi kekacauan pembagian sembako karena kurangnya koordinasi antara pihak yang berwenang, pemberi bantuan maupun masyarakat yang terkena dampak bencana. Kita bisa melihat dari televisi ataupun membaca dari koran, banyak sekali keluhan dari masyarakat yang mengungsi di beberapa titik evakuasi bahwa mereka belum menerima bantuan, padahal di lain pihak kita bisa melihat bahwa banyak sekali bantuan yang telah diberikan. Pertanyaannya adalah ke mana saja bantuan yang telah diberikan dan  kenapa masih saja banyak masyarakat mengeluh belum mendapatkan bantuan? Ternyata banyak sekali bantuan yang menumpuk di posko dan belum diberikan kepada masyarakat karena kurangnya koordinasi!

Sesaat setelah terjadi bencana, banyak pihak baik secara individual maupun organisasi dan juga dari badan-badan pemerintah yang segera terjun ke lokasi dan memberikan bantuan kemanusian. Semua pihak yang memberikan bantuan itu masing-masing datang dengan kepentingannya sendiri sehingga sering sekali terjadinya persaingan prioritas. Hal ini bisa dilihat dari kurangnya pelayanan dan bantuan yang diberikan kepada masyrakat yang terkena dampak bencana, salah satu contoh seperti yang disebutkan di atas. Contoh lain adalah terjadi duplikasi jenis bantuan sehingga akhirnya tidak berguna. Salah satu pengalaman saya ketika ikut dalam operasi tanggap darurat di suatu daerah, ketika itu bantuan berupa makanan sudah sangat banyak, sampai akhirnya masyarakat menolak untuk menerima bantuan makanan. Sebenarnya yang mereka butuhkan adalah bantuan obat-obatan dan tenaga medis, namun karena kurangnya koordinasi dalam manajemen informasi akhirnya bantuan tersebut datangnya sangat terlambat.

Definisi koordinasi menurut kamus artikata.com adalah perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. Beberapa sinonim untuk koordinasi, yaitu harmonisasi, pengaturan, pengorganisasian, penyelarasan, penyerasian, dan sinkronisasi.

Dari arti kata koordinasi serta beberapa sinonim kata tersebut, kita bisa melihat bahwa koordinasi tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Koordinasi harus dilakukan jauh hari sebelum terjadinya bencana. Koordinasi tanggap darurat bencana harus dilakukan oleh semua pemangku kepentingan baik dari pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Secara garis besar, untuk bisa membuat suatu sistem koordinasi yang baik harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Keikutsertaan dari semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam situasi darurat bencana. Koordinasi harus terjadi melalui suatu proses yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan. Seseorang atau suatu badan atau organisasi yang ditunjuk sebagai koordinator harus bisa membangun suasana yang baik dan saling menghormati antara setiap pemangku kepentingan. Setiap kebijakan atau prosedur untuk tanggap darurat harus disepakati oleh semua pemangku kepentingan.
  2. Tidak berpihak kepada sesuatu (imparsial). Koordinasi harus bertujuan untuk memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan yang dibuat tidak berdasarkan kesukuan, agama, pilihan politis, jenis kelamin atau usia. Perhatian harus diberikan kepada kelompok rentan, anak-anak, orang tua, orang cacat dan ibu hamil.
  3. Harus dilakukan secara transparan. Koordinasi membutuhkan kepercayaan dari semua pemangku kepentingan. Setiap proses pengambilan keputusan dan pemberian informasi harus dilakukan secara transparan dan jujur, termasuk jika terjadi kegagalan tetap harus diinformasikan dan jangan ditutup-tutupi untuk kepentingan tertentu.
  4. Harus bermanfaat bagi masyarakat yang terkena bencana maupun pemangku kepentingan lainnya.

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan untuk melakukan koordinasi dalam tanggap darurat adalah melakukan pemetaan terhadap semua pemangku kepentingan dengan kapasitasnya masing-masing. Hal ini perlu dilakukan untuk dapat mengetahui dan mempermudah proses keterlibatan masing-masing pihak pada saat tanggap darurat. Pada intinya pemetaan ini mencatat:

  1. Siapa
  2. Apa
  3. Di mana: lokasi
  4. Kapan
  5. Mengapa
  6. Bagaimana

Dari data pemetaan tersebut, kemudian kita bisa melihat kapasitas dari setiap pemangku kepentingan sehingga pembagian tugas untuk penanganan darurat pun bisa lebih terkoordinasi dengan baik.

Categories: Manajemen Bencana | Tags: , , , , , | Leave a comment

Cara Sederhana Menilai Kinerja Rantai Pasokan

Kinerja rantai pasokan yang ada saat ini harus bisa dinilai serta kita pun harus bisa melihat apakah kinerja tersebut telah ditingkatkan.

SCM Measurement

Secara garis besar, ada dua cara yang bisa dipakai untuk menilai kinerja rantai pasokan, yaitu secara obyektif dan secara subyektif. Penilaian yang obyektif dilakukan berdasarkan fakta yang ada, sebaiknya dalam bentuk angka. Untuk dapat menilai secara objektif, kita harus mampu membuat suatu cara penilaian terhadap aliran fisik dan aliran informasi. Aliran fisik bisa dilakukan salah satunya dengan cara menilai kinerja pengiriman barang/material, yaitu kita harus mencatat semua permintaan barang/material, kapan barang/material tersebut diterima, kapan barang/material tersebut dikirim, apakah ada pesanan yang tidak terkirim, dan lain-lain. Aliran informasi dapat dinilai dengan cara mencatat semua informasi baik yang menyangkut permintaan, pengiriman, pengembalian atau informasi apapun yang berhubungan dengan aliran fisik barang/material.

Penilain secara subyektif dilakukan untuk menilai hal-hal yang tidak bisa dilakukan secara obyektif. Salah satu contoh adalah pandangan atau persepsi orang yang tidak bisa didukung dengan data fisik pendukung, termasuk diantaranya adalah penilaian kepuasan pelanggan yang dilakukan melalui survei dengan beberapa cara misalnya secara kuisioner atau wawancara langsung.

Dengan kedua cara tersebut di atas, kita kemudian bisa membuat suatu matriks penilaian yang berfokus kepada kinerja eksternal dan kinerja internal. Kinerja eksternal adalah kinerja yang dilakukan untuk pelanggan/konsumen serta kinerja dari semua link yang ada dalam rantai pasokan tersebut. Kinerja internal adalah untuk melihat efisiensi proses kerja, khususnya dalam masalah biaya untuk semua proses yang dilakukan.

Berikut adalah cara penilaian sederhana untuk kinerja eksternal:

1. Pelayanan Pelanggan (Customer Service), yang dinilai antara lain:

  • Persentasi permintaan dan pemenuhannya. Definisi yang dipakai di sini adalah ketepatan waktu dan kondisi barang/material. Apakah pemenuhan permintaan tersebut dilakukan tepat waktu atau dapat juga dipenuhi sebelum waktunya. Apakah semua permintaan dapat dipenuhi dan tidak ada kesalahan, misalnya jumlah sesuai dengan permintaan, label yang diminta telah sesuai, tidak ada barang yang rusak, dan lain-lain.
  • Kualitas pelayanan yang diberikan. Termasuk di sini adalah informasi yang diberikan kepada pelanggan mengenai status barang/material yang diminta.
  • Fleksibilitas yang diberikan.

2. Kinerja link yang ada dalam rantai pasokan.

  • Bagaimana hubungan dengan link yang ada. Jika link lain yang ada mempunyai pandanngan dan cara yang berbeda dalam pengaturan dan penilaian kinerja maka hal ini bisa sangat mempengaruhi keseluruhan kinerja dari rantai pasokan ini.

Cara penilaian sederhana untuk kinerja internal

Memberikan layanan pelanggan yang baik juga harus dilakukan secara efisien. Jika murni terlalu berfokus pada pengukuran dan pengelolaan layanan pelanggan dapat menyebabkan inefisiensi dan biaya yang tidak perlu. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dipakai untuk mengukur efisiensi biaya dalam proses rantai pasokan:

  1. Total biaya.  Jumlah dari semua biaya termasuk biaya untuk semua orang/karyawan yang terlibat.
  2. Biaya inventori. Berapa total biaya yang dikeluarkan untuk inventori di semua tahap dalam rantai pasokan.
  3. Nilai inventori. Berapa nilai dari inventori yang ada dalam semua tahap.
  4. Biaya manajemen pesanan. Berapa keseluruhan biaya yang timbul dalam proses dan pengaturan pesanan.
  5. Biaya untuk “limbah”. Semua biaya yang dikeluarkan untuk mengatur, mengembalikan dan memusnahkan barang/material yang disebabkan oleh beberapa alasan tidak terpakai. Misalnya barang yang tidak sesuai pesanan, barang rusak, atau barang yang sudah kaduluarsa atau terlambat pengirimannya, dan lain-lain.
Categories: Supply Chain Management | Tags: , , , | 10 Comments

Respons – Tanggap Bencana

Airlift to speed up assistance to the affected people

Airlift to speed up assistance to the affected people

Pada penulisan sebelumnya kita melihat respon adalah pemberian layanan dan bantuan pada saat bencana terjadi dengan tujuan utama untuk menyelamatkan nyawa, mengurangi dampak penyakit atau yang berhubungan dengan kesehatan, memberikan layanan kesehatan dan memberikan bantuan kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan oleh penduduk yang terkena dampak bencana.

Kita juga bisa memakai referensi dari The United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR, 2009) sebagai berikut:

Respons adalah pemberian layanan tanggap darurat dan bantuan umum selama atau segera setelah terjadinya sebuah bencana yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mengurangi dampak-dampak kesehatan, memastikan keselamatan umum dan memenuhi kebutuhan dasar subsistens penduduk yang terkena bencana.

Dari referensi di atas, kita dapat melihat ada dua tahap respons, yaitu:

  1. Respons yang diberikan segera setelah terjadinya bencana atau yang kita kenal juga dengan nama tanggap darurat bencana.  Pada tahap ini kegiatan utama yang dilakukan adalah menyelamatkan nyawa dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar dan pemberian layanan kesehatan. Masa tanggap darurat bencana biasanya ditetapkan oleh Pemerintah untuk jangka waktu tertentu berdasarkan rekomendasi dari lembaga atau tim khusus yang bertugas untuk menilai dan mempertimbangkan kondisi dan dampak yang terjadi sesaat setelah terjadi bencana.
  2. Respons yang diberikan selama terjadinya bencana, tahap ini kita kenal juga dengan sebutan masa transisi bencana. Pada tahap ini pemberian kebutuhan dasar dan layanan kesehatan tetap berlangsung dan mulai dilakukan pemberian bantuan untuk memperbaiki sarana prasarana vital untuk menunjang kegiatan sosial ekonomi masyarakat segera berlangsung. Namun kegiatan pada tahap ini juga bersifat sementara. Terkadang tahap ini terus berlangsung sampai masa pemulihan.

Informasi awal mengenai kejadian bencana bisa didapatkan dari berbagai sumber, baik dari laporan masyarakat, pemerintah lokal setempat, media massa, internet atau sumber terpercaya lainnya. Informasi awal ini harus mencakup data yang dibutuhkan, yaitu:

  1. Apa: jenis bencana
  2. Kapan: hari, tanggal, bulan, tahun, waktu setempat
  3. Dimana: tempat atau lokasi atau daerah bencana
  4. Berapa: jumlah korban, kerusakan sarana prasarana
  5. Penyebab: penyebab terjadinya bencana
  6. Bagaimana: upaya apa yang telah dilakukan

Berdasarkan informasi awal tersebut di atas, Pemerintah atau organisasi profesional lainnya biasanya langsung menugaskan Tim Reaksi Cepat mereka untuk segera melakukan kajian secara cepat dan tepat serta memberikan layanan dukungan yang diperlukan. Secara garis besar, Tim Reaksi Cepat ini akan melakukan kajian dengan memakai referensi dari informasi awal yang diterima dan data sekunder yang tersedia. Hasil kajian cepat harus memuat data yang diperlukan, yaitu:

  1. Menjelaskan jenis bencana.
  2. Menjelaskan waktu terjadinya bencana.
  3. Menjelaskan tempat atau lokasi atau daerah bencana.
  4. Menjelaskan siapa dan berapa jumlah korban, yaitu berapa jumlah korban yang meninggal dunia, luka berat, luka ringan, sakit, hilang dan jumlah pengungsi, kerusakan bangunan dan sarana prasarana vital.
  5. Membuat analisis singkat penyebab terjadinya bencana.
  6. Membuat analisis singkat sumber daya yang tersedia di daerah terdekat dengan lokasi bencana dan kebutuhan bantuan sumber daya yang mendesak.

Dari hasil kajian Tim Reaksi Cepat ini, kemudian Pemerintah akan menetapkan status atau tingkat bencana dan menetapkan langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan untuk respons.

Categories: Manajemen Bencana | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Beberapa Cara untuk Meningkatkan Kinerja Rantai Pasokan

Pada penulisan sebelumnya kita telah melihat bahwa ada dua jenis aliran yang ada dalam rantai pasokan, yaitu aliran “fisik” dan aliran “informasi”. Berikut secara garis besar kita bisa melihat fungsi dari kedua aliran tersebut:

  1. Aliran fisik atau aliran barang/material adalah untuk memastikan jenis barang/material yang tepat, dalam jumlah yang tepat, dan kualitas yang tepat yang memenuhi persyaratan pembeli.  Aktivitas dalam aliran ini adalah membeli, membuat dan memindahkan.
  2. Aliran informasi adalah untuk memastikan apa barang yang dibutuhkan, berapa jumlahnya, kapan dan di mana diperlukannya.

Supply demand

Pada prinsipnya semua aktivitas dalam rantai pasokan ini adalah untuk merespon informasi dari aliran tersebut di atas.

Kita juga telah melihat bahwa ada lima komponen dasar dari manajemen rantai pasokan yaitu rencana, sumber pasokan, buat, kirim dan pengembalian barang.

Dari lima komponen dasar itu, kita bisa melihat ada tiga bagian penting, yaitu:

  1. Pengadaan dan manajemen order: sumber barang/material merupakan informasi penting bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhannya dan/atau kebutuhan pembeli.  Dari informasi ini maka kita dapat membuat perencanaan lebih lanjut untuk pengiriman barang/material tersebut.
  2. Transportasi: transportasi merupakan komponen penting untuk menjamin barang/material bergerak secara efisien dalam waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan.
  3. Gudang dan inventori: komponen ini juga merupakan komponen kunci dari proses rantai pasokan. Gudang menyimpan setiap persediaan yang ada dalam rantai pasokan.

Meningkatkan kinerja rantai pasokan adalah tentang bagaimana perusahaan dapat menjamin aliran fisik (barang/material) dan aliran informasi yang lebih efektif dan efisien serta menghapus semua hambatan yang mungkin ada yang akan berpengaruh bagi kedua aliran tersebut di atas.

Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan kinerja rantai pasokan:

  1. Memperbaiki dan meningkatkan komunikasi yang baik dengan semua pihak baik internal maupun eksternal. Komunikasi yang kurang baik akan menyebabkan berbagai masalah, misalnya keterlambatan dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Termasuk didalamnya adalah bagaimana kita dapat berbagi informasi yang relevan dengan pihak terkait. Kita juga ai harus memberikan informasi yang benar kepada pihak yang membutuhkan, sebaiknya selalu lakukan pengecekan kembali sebelum memberikan informasi tertentu, misalnya kesalahan informasi bisa mengakibatkan kesalahan pengiriman barang kepada konsumen.
  2. Meningkatkan koordinasi dan mengelolah dengan baik semua link yang ada dalam rantai pasokan, baik internal maupun eksternal. Termasuk di dalamnya adalah meningkatkan pengetahuan tentang manajemen rantai pasokan.
  3. Membuat sistem pelaporan yang baik. Salah satu contohnya adalah membuat suatu database yang baik, yang berisi semua informasi pergerakan barang/material dari mulai proses pengadaan, penyimpanan, pengangkutan sampai kepada titik akhir/pembelian.
Categories: Supply Chain Management | Tags: , , , , | 4 Comments

Blog at WordPress.com.