Budidaya Udang – Bagian 1

Pada penulisan sebelumnya, kita telah melihat salah satu contoh komoditi perikanan budidaya adalah udang. Kali ini saya akan mencoba menulis tentang budidaya udang karena udang merupakan salah satu produk paling terkenal dan termasuk juga salah satu produk yang paling banyak diperdagangkan dari perikanan budidaya. Bahkan budidaya udang saat ini masuk kategori yang paling cepat berkembang dari sektor produksi pangan di dunia.

Saya rasa kita semua tahu apa itu udang. Sebenarnya ada beberapa jenis udang namun yang mungkin lazim buat kita adalah udang putih (penaeus vannamei atau sekarang disebut litopenaeus vannamei), udang windu (penaeus monodon) dan udang galah (macrobrachium resenbergii de man). Udang putih dan udang windu sebenarnya adalah satwa laut namun berkat teknologi modern akhirnya pembudidayaannya bisa dilakukan di air payau. Sedangkan udang galah adalah udang air tawar, biasanya yang kita tahu udang ini bisa didapatkan dari sungai.

Aqua

Pada penulisan kali ini, saya akan lebih memfokuskan pada udang putih dan udang windu saja karena kedua jenis udang inilah yang paling banyak dikonsumsi dan diperdagangkan. Pada penulisan kali berikutnya saya akan mencoba membahas tentang udang galah.

Udang windu ukurannya relatif besar, namun saat ini produksinya menurun sehingga menyebabkan harganya pun naik. Salah satu faktor penyebab menurunnya produksi udang ini karena adanya wabah penyakit beberapa waktu lalu, antara lain White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan Monodon Baculo Virus (MBV). Udang ini dikenal sebagai udang yang “malas”, senang berada di dasar kolam dan jarang bergerak sehingga mudah terserang penyakit. Induk udang jenis ini kebanyakan hasil tangkapan namun ada juga yang dari kolam. Rata-rata petambak udang lebih memilih induk hasil tangkapan karena lebih cepat menghasilkan larvae atau “bayi” udang yaitu biasanya 4 – 8 minggu sedangkan yang dari kolam butuh waktu 8 – 12 minggu. Selain itu juga untuk proses pematangan pematangan pelet, hasil penangkapan hanya memerlukan makanan alami saja sedangkan yang dari kolam membutuhkan campuran alami dan bahan lain seperti cumi, kerang atau sampah ikan.

Udang putih ukurannya lebih kecil dari udang windu dan udang galah, namun udang putih inilah yang paling banyak diproduksi saat ini karena walaupun harganya lebih rendah dari udang windu namun udang ini mempunyai pasar yang cukup bagus dan relatif stabil. Udang jenis ini juga relatif lebih kuat dari udang windu karena lebih banyak bergerak dan tidak gampang “stress”. Sama seperti udang windu, induk udang putih pun didapat dari hasil tangkapan dan juga dari kolam. Sebenarnya induk hasil tangkapan lebih bagus, namum mengingat saat ini banyak perairan yang semakin tercemar membuat para petambak udang putih lebih memilih untuk memakai induk dari kolam.  Induk yang baik harus memenuhi kriteria SPF (Specific Pathogen Free) dan SPR (Specific Pathogen Resistant).

Advertisements
Categories: Budidaya Perikanan | Tags: , , , , , , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Budidaya Udang – Bagian 1

  1. Apa kelemahan dan keunggulan budidaya udang dibanding ikan atau lele?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: